BERHENTI SEJENAK



Ingatlah bahwa teko yang kosong tak akan pernah bisa mengisi cangkir yang ada di sekelilingnya. 
-Reza Yoga (2012)-





Dalam hidup kita, ada masa-masa di mana kita menjadi sangat produktif. Banyak karya yang bisa kita hasilkan, banyak pemikiran-pemikiran yang kita tuangkan, banyak muncul ide-ide segar nan kreatif, seolah begitu mudahnya mengalir dan tak terbendung. Semangat kita meletup-letup, tenaga kita menjadi berlebih seolah semua hal bisa kita kerjakan dan kita selesaikan saat itu juga.

Tapi sahabat, ingatlah kembali bahwa selain masa-masa itu, ada masa di mana kita sangat letih. Pikiran seolah buntu tanpa menghasilkan satupun gagasan baru. Fisik terlalu lemah untuk mengerjakan hal-hal yang sudah menjadi tanggung jawab kita, sedangkan hati dan jiwa menjadi kerontang tanpa bisa memberikan sentuhan magis pada setiap karya yang kita hasilkan. Tanpa ruh.

Siapapun kita, penulis, penyair, pegawai kantoran, bos perusahaan, seniman, pelukis, budayawan, agamawan bahkan politisi sekalipun, pasti pernah mengalami dua kondisi di atas.

Beruntunglah orang-orang yang hidupnya didominasi oleh situasi pertama. Selalu bisa memastikan bahwa diri ini berada dalam kondisi segar dan penuh motivasi. Bisa menghidupkan ruh pada setiap karya yang dihasilkan. Saat harus terpuruk oleh situasi, ia dengan mudah bangkit dan bergerak melawan. Saat ia kering tanpa inspirasi, ia dengan mudah bisa mengisi kekosongan jiwa dan kembali berkarya dengan full spirit.

Tapi tak semua orang memiliki kemampuan untuk itu, dan diri kita mungkin saja termasuk di antara orang-orang yang tak memilikinya. Ada sedikit nasihat yang mungkin bisa berguna buat diri kita.

Jika anda berada pada kondisi kedua, maka saran saya berhentilah sejenak. Bukan untuk diam dan hanyut dengan keadaan, tapi untuk mengisi kembali semangat yang telah kosong. Proses ini memerlukan waktu khusus dan keharusan untuk fokus. Ingatlah bahwa teko yang kosong tak akan pernah bisa mengisi cangkir yang ada di sekelilingnya.

Jika kita ingin produktif, menghasilkan karya yang memiliki cukup kekuatan untuk menyentuh jiwa, maka pastikan bahwa kita selalu dalam keadaan on mission. Jauh dari hal-hal yang tidak penting, senantiasa berada dalam kondisi jiwa yang stabil , menjaga emosi dan kejernihan akal dan fikir.

Bagaikan muwashofat pertapa. Tapi memang kecerdasan spiritual inilah yang menjadi salah satu kunci kesuksesan banyak orang yang ada sebelum kita. mari kita lihat bagaimana Cak Nun, Sam Bimbo, dan seniman lain mewarnai aktivitas penulisan karya dengan puasa dan tahajud. Banyak temuan lain yang membuktikan bahwa karya-karya besar yang dihasilkan ilmuwan dunia dihasilkan pada waktu-waktu magis – sepertiga malam terakhir.

Inilah yang akan kita nyawakan pada karya-karya kita, sebuah kesadaran bahwa ada sebuah kekuatan di luar diri kita yang memiliki kuasa untuk menentukan kemana kaki ini melangkah. Jika rasa itu mulai pudar dan mengering, jangan memaksakan diri, berhentilah sejenak untuk mengisi kekosongan jiwa dan ruhani, karena itu akan tercermin dalam karya-karya kita.

Bukankah seekor katak pun selalu berhenti sejenak sebelum melakukan lompatan yang lebih tinggi ?

DARI DORAEMON KITA BELAJAR






Jangan pernah berharap hidup tanpa ujian, tapi berharaplah agar kita diberi kekuatan untuk menghadapinya
-Reza Yoga (2011)-






Rumah kontrakan saya yang dulu sepi kini menjadi sedikit lebih semarak dengan kehadiran penghuni-penghuni baru. Keragaman sifat dan karakter mereka mewarnai hari-hari saya di kota Malang saat ini. Ada satu hal yang selalu kami sekeluarga (kontrakan) lakukan ketika malam menjelang. Setelah sholat isya’ kami suka berkumpul di kamar salah seorang penghuni kontrakan dan mulai saling bercerita.

Kami bisa membicarakan apa saja, mulai dari cerita lucu yang muncul dari kegiatan keseharian kami hingga harapan-harapan besar akan masa depan kami. Pada suatu sesi, saat kami bercerita tentang Jepang, salah seorang mulai bercerita mengenai apa yang ia sukai dari Negeri Sakura itu. Mulai dari kemajuan teknologi, kekuatan budaya lokalnya, hingga kekuatannya sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia. Yang paling menarik adalah saat salah seorang penghuni kontrakan dengan polosnya mengatakan bahwa hal yang paling menginspirasi dari jepang adalah Doraemon.

Pikiran saya kembali menerawang jauh, jauh menyusuri masa-masa ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Saya ingat betul bahwa Doraemon adalah kartun pertama yang saya tonton, kartun pertama yang saya sukai. Saat itu saya merasa seperti diajak untuk berpetualang ke negeri impian yang tak pernah saya temui. Saya tumbuh bersama Doraemon. Alat-alat yang keluar dari kantong ajaibnya benar-benar memenuhi segala ekspektasi imaji saya tentang segala keajaiban yang saya bayangkan akan terjadi di sekitar saya.

Saat semua teman satu kontrakan menertawakan pilihannya untuk menjadikan Doraemon sebagai hal yang paling berkesan dari jepang, saya hanya tersenyum kecut. Dalam hati saya menyetujui hal tersebut. Doraemon telah menginspirasi saya dalam beberapa hal. Secara lucu, ia telah memberi saya beberapa pelajaran hidup yang saya ingat hingga sekarang.

Dalam berbagai plot, digambarkan bahwa Nobita sebenarnya tahu bahwa jika ia tidak mengerjakan PR, ia akan dimarahi pak guru. Tapi tetap saja ia memilih untuk bermalas-malasan, bermain, atau tidur siang tanpa menyentuh PR nya sama sekali. Sama seperti kita yang sebenarnya sudah tahu masa depan seperti apa yang menunggu kita jika kita bermalas-malasan, tapi tetap saja tidak mau bergerak untuk mengupayakan sesuatu agar masa depan kita lebih baik. Jika sudah begitu Doraemon lah yang turun tangan.

Di plot lain digambarkan bahwa jika sedang menghadapi sebuah masalah, maka Nobita akan segera meminta bantuan pada Doraemon. Dengan berbagai alat canggihnya Doraemon tidak pernah mengeluarkan alat yang berusaha menghindarkan Nobita dari masalah, tapi selalu mengeluarkan alat yang membantu mereka untuk menghadapi masalah dengan lebih baik. Ia tidak pernah menyulap agar tidak ada PR sama sekali dari sekolah Nobita, tetapi Ia selalu mengeluarkan alat-alat yang bisa membantu Nobita untuk mengerjakan PR dengan lebih mudah. Nobita juga tidak pernah meminta alat yang membuatnya tidak dipukul Giant atau bahkan menghilangkan Giant sama sekali dari hidupnya, tapi ia selalu minta alat yang bisa membantunya untuk menghadapi Giant.

Perspektif itulah yang seharusnya kita pakai untuk menjalani kehidupan. Jangan pernah berharap hidup tanpa ujian, tapi berharaplah agar kita diberi kekuatan untuk menghadapinya. Karena sesungguhnya, hidup ini merupakan rangkaian cobaan dan ujian. Sama seperti sekolah, jika kita mampu menghadapi sebuah ujian, maka kita akan segera dihadapkan pada ujian yang lebih berat. Begitu seterusnya hingga suatu saat kita tersadar bahwa ujian-ujian tersebuat telah mengantarkan kualitas kemanusiaan kita pada derajat yang lebih tinggi.

Pelajaran yang begitu dalam, saya dapatkan dari lawakan tokoh-tokoh kartun pujaan saya ketika kecil. Sepele dan terkesan seperti banyolan. Tapi tetap berharga bagi saya, karena sesungguhnya, pelajaran berharga mengenai kehidupan bisa kita ambil dari hal kecil dan sederhana di sekitar kita.

NYAWA KETELADANAN




tidak ada wibawa pada orang yang menasihatkan apa yang tidak ia teladankan
-Reza Yoga (2012)-




Bagi kebanyakan manusia, berbicara merupakan hal yang paling mudah dilakukan. Mulut terbuka dan kata-kata akan dengan begitu mudah mengalir darinya. Begitu mudahnya berbicara hingga kadang kita tak sempat menilai apakah yang keluar dari mulut kita itu perkataan yang baik atau perkataan yang buruk. Istilah kerennya berbicara sebelum berfikir. Untuk yang satu ini, hendaknya kita senantiasa berhati-hati agar yang keluar dari mulut kita adalah perkataan yang baik.

Sayangnya, banyak orang yang dengan mudah menyuarakan kebaikan melalui perkataan mereka, tetapi susah menjadi contoh kebaikan. Semua orang sudah paham bahwa perbuatan mencuri itu tidak bisa dibenarkan oleh apapun, tapi cobalah hitung berapa banyak orang di Negara kita yang suka mengambil sesuatu yang bukan haknya. Jika jumlahnya sedikit, Indonesia tidak akan masuk dalam daftar negara terkorup di dunia.

Contoh yang lebih kecil bisa kitra lihat dalam sebuah keluarga. Orang tua seringkali menasihati anaknya untuk bersikap sopan kepada yang lebih tua, sementara si anak melihat sendiri bahwa sang Ayah tidak menaruh hormat sama sekali pada neneknya. Padahal tidak ada wibawa pada orang yang menasihatkan apa yang tidak ia teladankan.

Memberikan contoh yang baik, lebih berpengaruh daripada hanya memberikan nasihat yang baik. Memberi keteladanan memang sulit, karena pertama-tama kita harus memiliki cukup kekuatan untuk memulai berbuat baik. Selanjutnya juga tidak mudah, kita harus memastikan agar perbuatan baik itu bisa kita lakukan secara kontinyu.

Hal ini harusnya membuat kita hati-hati dalam berbicara, terutama jika kita diminta untuk memberikan nasihat. Selain menjaga agar perkataan yang keluar adalah perkataan yang baik, kita juga harus memastikan bahwa diri kita juga melakukannya dalam perbuatan kita. Akhirnya menasihatkan kebaikan menjadi sama sulitnya dengan melakukan kebaikan tersebut.

Ini bukan sebuah pembenaran untuk orang-orang yang memilih diam ketika melihat kemungkaran terjadi dengan alasan belum bisa menerapkan apa yang dinasihatkan, atau yang menasihati tak lebih baik dari yang dinasihati. Ini bukan alasan untuk diam, karena diam sejatinya adalah pengkhianatan.

Ini hanyalah sebuah ajakan untuk senantiasa memperbaiki diri. Untuk memantaskan pribadi kita. menyelaraskan antara apa yang kita katakan dengan apa yang kita lakukan. Berusaha untuk tidak menjadi kaum yang dibenci oleh Allah.

“Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (As-Saff : 3)”

Tekad Urip





Ingatkah kau sahabat ? “laki-laki tak pernah ingkar janji”
- Reza Yoga (2012) -




Ia Bernama Tekad. Nama yang unik bagi saya, nama belakangnya tidak kalah asik : Urip. Jika dirangkai menjadi Tekad Urip. Dalam Bahasa Jawa, berarti Tekad Hidup. Ia adalah salah satu sahabat terbaik saya. Pertama kali kami saling mengenal di bangku SMA. Waktu terus berlalu dan menghanyutkan kami dalam sebuah persahabatan yang penuh cerita.

Tak jarang ia dijadikan lawakan oleh teman-teman yang lain karena penampilannya yang nyuklun dan kadang nyentrik. Tapi otaknya cerdas. Ia termasuk salah satu siswa pandai di sekolah kami. Apalagi jika sudah berbicara tentang hal yang ia kuasai. Saya selalu merasa tidak memiliki cukup kata untuk mendeskripsikan pribadinya.

Kami sering menghabiskan waktu bersama, terutama saat pulang sekolah di sore hari. Waktu itu rumah kontrakan saya jauh, dan kadang saya tidak memiliki cukup uang untuk naik angkot. Akhirnya ia lah yang setia menjadi sopir pribadi megantarkan saya hingga di depan pintu rumah.

Senja itulah yang selalu saya kenang. Ketika mengantarkan saya, ia selalu menceritakan banyak hal. Tentang masalah-masalah yang sedang ia hadapi saat itu, tentang sahabat dan cinta pertamanya, hingga cita-cita besarnya di masa depan. Kami selalu berbagi banyak hal.

Yang mengejutkan, ternyata dulunya ia lumpuh. Ia tak bisa berjalan dan menggunakan kedua kakinya seperti orang kebanyakan. Jika saya tak salah ingat, ia banyak menghabiskan waktunya di kursi roda. Suatu sore ia diajak ‘jalan-jalan’ keluar rumah oleh kakeknya. Tentunya bukan berjalan-jalan dalam arti sebenarnya karena ia tidak bisa berjalan, kakeknya mendorong kursi rodanya dari belakang.

Saat itulah ia bertemu dengan seekor anjing. Anjing itu mulai menyalak dan mengejar keduanya. Kakeknya berlari dan meninggalkan Tekad sendirian. Tekad yang saat itu sangat ketakutan spontan beranjak dari kursi roda dan berlari. Ya, berlari kawan-kawan ! Padahal lima menit sebelumnya ia masih lumpuh.

Entah kekuatan apa yang menggerakkannya kala itu, yang jelas semenjak saat itu ia tumbuh menjadi orang yang kuat, pantang menyerah dan selalu percaya bahwa jika kita memiliki kemauan (baca : Tekad) yang kuat, maka Allah akan memberikan kemudahan  jalan bagi kita.

Dia benar-benar membuktikan kata-katanya. Keyakinan dan keoptimisannya tentang suatu hal melebihi cara teman-temannya meyakini hal yang sama. Seperti saat kami berdua harus tertinggal di Magetan saat sahabat-sahabat kami pergi ke luar kota untuk mengikuti bimbingan belajar persiapan seleksi masuk perguruan tinggi.

Kami ‘tertinggal’ bersama beberapa orang lainnya karena kami tak memiliki cukup uang untuk ikut bimbel waktu itu. Bersama Tekad, kami berinisiatif membuat rencana bimbingan belajar sendiri di sekolah, dengan bantuan beberapa guru sebagai mentor dan perpustakaan sekolah sebagai pusat literatur sekaligus markas berkumpul kami.

Di situlah kami berbagi inspirasi, tentang cita-cita perguruan tinggi, karya karya yang akan kami hasilkan, hingga negara-negara yang akan kami kunjungi di masa yang akan datang. Energinya begitu positif. Tak ada satupun dari kami yang tak yakin bahwa masa depan akan benar-benar ada dalam genggaman kami. Tak ada seorangpun yang bisa menghentikan kami.

Waktu berlalu dan Tekad berhasil menggenggam impiannya untuk kuliah di IPB. Dari kabar yang saya dengar, Ia aktif menulis karya ilmiah, serta masih aktif mengikuti kegiatan keislaman (Rohis Kampus). Penelitiannya disukai profesor-profesor dari beberapa negara dan saat ini ia sedang bersiap untuk bertolak ke luar negeri untuk melanjutkan studinya.

Ia benar-benar mengabulkan do’a yang tersemat dalam namanya, Tekad Urip. Hidupnya diwarnai dengan tekad kuat dan kerja keras. Jika orang hanya akan menuai apa yang ia tanam, maka ia sedang panen saat ini. Tapi saya yakin ia tak akan berhenti sampai di sini. Tekadnya akan terus tumbuh dan menginspirasi.

Saat ini ingin sekali saya menghambur memeluknya, salah satu sahabat terbaik saya. Mengucapkan selamat dan melepas kepergiannya ke negeri orang. Atau jika kami tak bisa membunuh jarak ini, paling tidak saya bisa sms atau meneleponnya. Tapi saya menahan diri. Saya akan membiarkan kerinduan ini terjaga dalam kotaknya.

Hingga tiba saatnya nanti, kami akan bertemu di sudut kecil salah satu gang di Kota Bogor, tempat kami berjanji bahwa hidup tak boleh hanya sekedar berlalu tanpa isi. Tempat di mana kami memendam pandora yang berisi do’a dan impian masa depan, yang akan kami buka tepat lima tahun dari sekarang. Seperti yang pernah kami janjikan lima tahun lalu.

Ingatkah kau sahabat ? “laki-laki tak pernah ingkar janji”

Ingin Jadi Pengusaha





Tantangan dan hambatan tidak menginginkan anda untuk berbalik arah, mereka hanya ingin anda berusaha lebih keras.
-Reza Yoga (2012)-







Saya masih ingat salah satu episode Spongebob si celana kotak yang cukup menarik. Di episode itu diceritakan bagaimana Plankton, pesaing bisnis Tuan Krab menyabotase pendingin ruangan hingga menunjukkan angka jauh di bawah nol derajat. Hal itu membuat seisi ruangan Restoran Krusty Krab menjadi beku dan dipenuhi es.

Plankton tertawa penuh kebanggaan karena mengira bahwa ia telah berhasil membuat Restoran Tuan Krab bangkrut. Padahal tidak, Tuan Krab malah mengeruk keuntungan yang semakin banyak dengan cara menyulap Krusty Krab menjadi Restoran berkonsep ice skating lengkap dengan hiburan ice-dancer  dan pertandingan hokkey.

Tidak terima dengan hal tersebut, plankton kembali ke Krusty Krab untuk mengubah pengatur suhu ruangan hingga mencairkan seluruh es yang ada di sana. Krusty Krab yang mendadak dipenuhi air disulap oleh Tuan Krab menjadi sebuah Restoran berkonsep Pool-resto yang bernuansa musim panas lengkap dengan kolam renang dan minuman dingin. Sangat kreatif dan Out of The Box (saya sampai berfikiran untuk membuka usaha yang sama dengan Tuan Krab).

Para pengusaha memang harus belajar banyak pada Tuan Krab. Silakan menertawakan lelucon ini, tapi Tuan Krab benar-benar berhasil menyindir kita semua (terutama yang ingin menjadi pengusaha). Dengan cara yang konyol ia mengajarkan pada kita bahwa kita tidak boleh larut dalam masalah dan kendala yang menimpa diri kita.

Bahkan jika kita cermat, kita bisa menjadikan kendala tersebut sebuah pijakan untuk melompat lebih jauh ke depan. Para trainer dan motivator sering menyebutnya sebagai merubah tantangan menjadi peluang, merubah hambatan menjadi kesempatan. Suatu hal yang mudah diucapkan tapi susah diteladankan.

Akui saja, saat kita sedang memulai sebuah usaha misalkan, kita sering mengeluh : ”saya tidak punya modal” atau “saya tidak punya sarana” atau keluhan-keluhan sejenis. Padahal jika kita mau berhenti sejenak dan merenung, masih banyak pintu-pintu kesempatan yang belum kita buka. Banyak pengusaha sukses yang memulai usahanya dengan makelaran (yang secara praktis minim modal karena sifatnya hanya menjadi perantara). Hal ini membuktikan bahwa modal bukanlah hambatan untuk menggapai impian sebagai pengusaha besar.

Jika bayangan di cermin terlihat kabur, jangan buru-buru membeli cermin baru, bisa jadi anda hanya perlu membeli kacamata baru. Ya, jangan terburu-buru menggunakan tantangan yang ada di depan anda sebagai  alasan untuk berhenti melangkah. Ubah paradigma kita, ubah cara pandang kita mengenai tantangan yang (pasti) selalu hadir.

Saya pernah menuliskan bahwa tantangan itu dihadirkan bukan untuk menghalangi anda, tapi untuk membuktikan seberapa besar tekad anda untuk meraih tujuan. Jadi sebenarnya tantangan dan hambatan tidak menginginkan anda untuk berbalik arah, mereka hanya ingin anda berusaha lebih keras.

Jadi hari ini Tuan Krab telah mengajarkan pada kita, salah satu dari sekian karakter penting yang harus dimiliki seorang pengusaha : berfikir jernih, kreatif, dan out of the box.

M H M M D




kita adalah nahkoda bagi kapal kehidupan kita masing-masing
-Reza Yoga (2011)-






Suatu ketika, saat saya masih duduk di bangku SMA, saya dan beberapa orang dari berbagai SMA di Jawa Timur diminta untuk mewakili Provinsi dalam acara pelatihan kepemimpinan OSIS tingkat nasional di Bogor. Sampai saat ini, saya masih menganggap momen tersebut sebagai keberuntungan terbesar dalam hidup saya. selama sepekan kami diberikan pembekalan mengenai organisasi kesiswaan, dan seluk beluknya. Di tempat itu, kepemimpinan dan kemampuan manajerial kami juga digembleng dengan intens.

Hingga pada hari ketiga, sesi pelatihan dipegang oleh sebuah lembaga pelatihan bernama MHMMD. Nama yang unik bagi saya, karena pada jaman itu, lembaga pelatihan sering memakai nama-nama bombastis untuk mem-branding produk pelatihan mereka. Selama tiga hari berturut-turut, seluruh peserta diajak untuk mengarungi sejarah masa lalu masing-masing, menggambarkan kondisi saat ini, merancang peta masa depan, dan berbagi dengan tokoh-tokoh yang telah berhasil dengan peta hidup mereka.

Saya tidak terlalu mampu untuk melukiskan betapa dahsyatnya pelatihan tersebut karena memang selama proses pelatihan, mereka jarang sekali memakai kata-kata bombastis yang kadang terasa si awang-awang, tak tersentuh logika sederhana kita. Mereka lebih mengajak kami untuk berfikir mengenai kehidupan yang kami jalani saat ini. Logika yang runut, dialog dan diskusi kelompok yang intim dan berkualitas menjadikan hasil pelatihan lebih membekas hingga sekarang.

Masih segar dalam ingatan saya bahwa pada sebuah sesi kami diminta untuk menuliskan daftar impian kami masing-masing pada selembar ‘kertas impian’. Saya menuliskan beberapa hal seperti : membuat komunitas nasyid di magetan, kuliah di perguruan tinggi Negeri di Malang, Kuliah dengan biaya sendiri, mendapatkan beasiswa sejak semester pertama kuliah, hingga menjadi presiden BEM dan rekaman di studio musik. Semua saya tulis tanpa ada rasa ragu apakah saya bisa mewujudkannya atau tidak.

Sang pelatih juga menekankan pada kami bahwa tulisan di kertas-kertas tersebut tidak akan berakhir hanya sebagai tulisan di atas kertas saja. Impian-impian tersebut bisa kita raih asalkan kita Fokus, well-planned dan benar-benar yakin bahwa kita bisa mewujudkannya. Seperti asas hukum ketertarikan bahwa jika kita meyakini / berfikir tentang suatu hal, maka sesungguhnya kita sedang menarik hal tersebut untuk datang pada kehidupan kita.

Sampai akhirnya, kertas tersebut bagai selembar kertas ajaib bagi saya. Impian saya satu per satu mulai terwujud. Komunitas nasyid, kuliah, beasiswa, mulai terwujud satu persatu. Bahkan beberapa hal yang sebenarnya sudah lama saya lupakan semasa SMA seperti Presiden BEM, rekaman dan lain-lain mulai terwujud satu persatu, hanya karena saya pernah begitu yakin bahwa hal tersebut akan  terjadi di kehidupan saya.

Yang lebih mengejutkan lagi, saat saya menuliskan akan bergabung dengan keluarga besar MHMMD, saya dipertemukan dengan Abi dengan ‘MHMMD Jatim’ nya. Dari situ saya benar-benar yakin bahwa kita adalah nahkoda bagi kapal kehidupan kita masing-masing. Kita memiliki kemampuan untuk mengupayakan agar hal terbaiklah yang terjadi dalam hidup kita.

Bahkan Tuhan pun sudah berjanji bahwa Ia tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka mengupayakannya sendiri. Kita hanya perlu tujuan yang jelas, mental yang matang, usaha keras yang berlandaskan keyakinan dan hubungan yang harmonis dengan Sang Penentu Takdir agar yang kita upayakan selaras dengan apa yang ia takdirkan. 

Terima kasih MHMMD


KEHILANGAN




Orang kaya akan lebih banyak kehilangan, karena ia dituntut untuk lebih banyak memberi
- Reza Yoga (2011) -




Saya hanya bisa menggelengkan kepala saat ada seorang adik tingkat saya di kampus yang bercerita mengenai kejadian yang baru saja menimpanya. Ia bercerita bahwa ia baru saja kehilangan 1 buah laptop di rumah kontrakannya. Tak lama kemudian ia kehilangan helm, dan yang terakhir, rumah kontrakannya nya disatroni maling (lagi).

Bagi teman saya, nilai barang-barang tersebut sebenarnya tidak seberapa besar karena ia termasuk anak orang yang berada. Akan tetapi saya tetap bisa memahami bagaimana rasanya jika tiba-tiba barang-barang yang kita miliki, apalagi jika barang tersebut adalah barang yang kita sayangi, tiba-tiba berpindah hak milik tanpa persetujuan kita.

Saya sendiri pernah mengalami beberapa momen kehilangan. Mulai dari dompet yang berisi seluruh hidup saya (saya rasa tidak berlebihan karena isinya adalah : biaya hidup saya selama sebulan, uang hasil usaha dagang saya, ATM, KTM, KTP, ASKES, dan lain-lain) sampai dengan sepeda onthel yang biasa saya pakai untuk pergi ke kampus dan ke tempat kerja.

Kehilangan memang menyebalkan, membuat jengkel dan dongkol. Akan tetapi saya sadar betul bahwa umpatan dan makian tidak akan membawa saya kemana-mana, pun tidak akan bisa membawa barang-barang yang telah hilang kembali ke tangan kita. Biasanya saya langsung mengambil tindakan pasrah yang paling rasional : mengurus surat kehilangan di kantor polisi untuk mengurus surat-surat penting yang hilang, atau hanya sekedar melapor.

Orang-orang biasanya berkata “mungkin kamu kurang beramal” atau “disuruh Tuhan untuk beramal lebih banyak tuh”. Kemudian saya menemukan sebuah teori bahwa : Orang kaya akan lebih banyak kehilangan, karena ia dituntut untuk lebih banyak memberi. Ya, begitulah konsep keseimbangan hidup yang saya pelajari bahwa si pintar harus mengajari si bodoh, si kuat harus menolong si lemah, si kaya harus memberi si miskin.

Posisi manusia selalu berada di tengah, ketika ia melihat ke atas, ia akan selalu bisa melihat orang yang yang ‘lebih tinggi’ dari dirinya. Begitu pula saat ia melihat ke bawah, ia akan selalu menemukan orang yang ‘lebih rendah’ (baca : miskin) daripada dirinya. Jadi ketika kita kehilangan sesuatu, sebenarnya kita sedang ditunjukkan bahwa kita sedang lupa pada betapa kayanya kita, sampai-sampai kita harus dipaksa untuk memberikan sebagian harta kita pada orang lain.

Sebuah konsep yang cukup konyol. Tidak, bahkan sangat konyol. Tapi cukup efektif untuk membuat saya menjadi orang yang senantiasa berbaik sangka pada kehidupan, atau paling tidak pemikiran ini lebih baik daripada umpatan yang hanya akan mengantarkan anda pada penderitaan akibat  ketidakpuasan akan takdir yang sudah terjadi.